Skip to main content
Kirim API key di header Authorization dengan skema Bearer pada setiap request ke /v1:
Jangan menaruh key di URL atau query string.

Format key

Key berbentuk sk_ diikuti 64 karakter heksadesimal. Di dashboard, key ditampilkan sekali saat dibuat. Setelah itu yang terlihat hanya prefix-nya (kolom Prefix di daftar API key), yang juga muncul sebagai pelaku di Log Audit: API key <prefix>/<nama>. Levia hanya menyimpan hash key, jadi key yang hilang tidak bisa ditampilkan lagi. Cabut lalu buat key baru.

Siklus hidup key

Key dikelola di dashboard: Pengaturan Organisasi → API Key.

Key bertindak sebagai pembuatnya

API key milik organisasi, tetapi setiap request dijalankan atas nama user yang membuat key:
  • Role user itu di organisasi tetap berlaku. Misalnya, role tanpa akses tagihan tidak bisa membaca billing walau key punya billing:read.
  • SSH key yang terlihat dan bisa dipakai adalah milik user itu.
  • Bila user itu dikeluarkan dari organisasi, key-nya tidak bisa dipakai lagi (403).
  • Resource organisasi lain tidak pernah terlihat: hasilnya 404 atau daftar kosong.

Jaga key tetap aman

API key dengan scope write bisa membuat resource berbayar dan menghapus data. Perlakukan seperti password.
  • Jangan pernah membagikan key, termasuk di tiket dukungan, chat, atau screenshot. Untuk dukungan, kirim X-Request-Id (lihat Format respons & error).
  • Jangan commit key ke repository atau menaruhnya di kode frontend. Simpan di secret manager atau variabel lingkungan.
  • Buat satu key per integrasi dengan scope seminimal mungkin dan masa berlaku terbatas, supaya mudah dicabut tanpa mengganggu integrasi lain.
  • Cabut key yang bocor atau tidak dipakai lagi.

Error autentikasi